CHOKYUNIE

Scandal

89 Komentar


sc-cov

 

Title : Scandal

Length : Oneshoot

Rating : 18+

Genre : Romance, Drama, etc…

Cast : Cho Kyuhyun || Seo Joohyun || Choi Siwon

.

[A/N]: Ada banyak ide-ide hebat serta menarik yang hadir di kolom komentar. Tapi keterbatasan diri saya yang memang tidak terlalu hebat dalam berimajinasi membuat saya berakhir dengan mandet(?)
Namun, jika ada waktu, lalu laju otak ketika nulis luancar, insya alloh saya coba buatkan.
Dan untuk request kali ini, yang saya pilih adalah idenya dari ‘Kyunadia’ terima kasih yah…
Maaf kalau sedikit atau malah banyak yang menyimpang dari imajinasimu. Cuman saya berharap kamu dan ke semuanya yang baca juga, tetap bisa menikmati serta merasa terhibur.
Sekali lagi terima kasih semuanya…..
Jangan lupa sediakan kacang sama es cendol yah biar ga ngantuk pas baca epepnya yang super panjang……………kekekkkkk

.

[Notes]: Tulisan miring dan bercetak tebal adalah flashback

Sorry always there typos

Happy Reading…. ^^

.

Menikah itu rumit. Sangat rumit. Mungkin bagi kebanyakan orang yang telah mengalaminya akan merasakan hal serupa. Terlepas dari masalah ekonomi, ada banyak hal yang membuat jalinan rumah tangga malah terasa menjadi beban. Nyatanya cinta saja tidaklah cukup untuk membuat satu kenyamanan tercipta dalam sebuah biduk rumah tangga. Apalagi jika tidak ada cinta sama sekali?

Banyak hal yang terjadi di luar imajinasi ketika masih melajang. Kurangnya rasa saling pengertian, ego yang terlampau tinggi, pemikiran yang tak sejalan, dan banyak lagi. Banyak lagi…terlalu banyak…
Pemikiran yang terlalu dangkal serta tidak bisa memupuk rasa sabar dengan benar ketika mengarunginya maka akan sangat pasti sebuah rumah tangga akan berakhir dengan berantakan serta hancur tidak bersisa.

~~~~

“Siang nanti anda harus pergi ke Gimpo untuk menghadiri acara pementasan tradisional. Lalu setengah jam setelah selesai acara disana, anda harus kembali ke Seoul untuk menghadiri pembukaan hotel baru milik tuan Youngjae. Kemudian…”

Otaknya merasa tak fokus. Langkah kedua kakinya seakan diputari suara yang tengah bergumam namun tak masuk pada satu inti yang patut dimengerti. Melayang tak karuan seperti angin yang terhembus lalu hilang di peradaban ketika anginnya tertiup ke arah lain.

“Oh ya…” masih disambut oleh satu ocehan ringan, kedua telinganya kerap mendengar rincian kalimat yang tengah berkumandang “Tuan Choi tadi menelepon dan berpesan jika anda ha-“

“Siapkan saja segalanya dan lakukan sesuai jadwal yang ada” dia balas bersahut. Satu kakinya berhenti kemudian kedua pasang matanya dia alihkan guna menatap singkat “Tidak perlu memberitahukan sesuatu yang di luar jadwal kerja. Kau mengerti?” sambungnya lagi kemudian kembali melangkah.

Memberikan pernyataan singkat bahwa kabar terakhir tidaklah perlu untuk dirinya dengar. Jelas tidak perlu karena menurutnya itu tidaklah membuatnya terpacu dalam rasa ingin tahu yang lebih dalam.

“Ya…baik, sajangnim”

Jawaban dari bawahannya mengalun ringan kala dia terus berjalan menjauh. Dia hiraukan keterpakuan yang pastinya tengah terjadi di benak sang bawahan. Yang dirinya lakukan sekarang adalah terus melangkah ke depan. Semakin jauh dan mulai membuat punggungnya pun menghilang dari pandangan sang pegawai.

©©©

Pesta tengah digelar dengan meriah. Banyak wajah dengan nama yang begitu familiar jika untuk ukuran mereka yang mempunyai posisi penting serta kemampuan mumpuni dalam dunia bisnis. Mereka saling berbaur dengan diselimuti wajah yang ramah serta ceria. Namun, dalam hati orang-orang tersebut tidaklah tahu seperti apa. Apakah wajah itu benar-benar memperlihatkan keceriaan yang setara dengan yang hatinya rasakan?

“Suamimu tidak ikut?”

Napasnya seakan terhenti untuk sejenak guna menerima satu pertanyaan katakanlah wajar dari salah satu teman seprofesinya. Senyum lalu dirinya tampilkan sebelum menggeleng pelan kala dia telah sanggup menjawab.

“Tidak” sahutnya singkat serta padat membuat yang bertanya membuat lubang kecil di mulutnya kemudian mendesah pelan.

“Kenapa? Padahal yang lainnya datang berpasang-pasangan. Aku pun begitu. Apa suamimu sedang sibuk? Dia banyak pekerjaankah? Masih belum pulangkah dari dinas kerjanya?”

Perlukah untuk dijawab? Dia, seorang wanita dengan paras cantik bernamakan Seohyun, lantas umbar senyum ringan tanpa perlu memberikan banyak jawaban lagi. Hal itu disambut dengan desahan ringan dari temannya yang telah bertanya. Memang tidak perlu untuk terus menggali. Dengan hanya cukup diberi senyum tersebut, sang teman mulai mengalihkan pembicaraannya dan Seohyun merasa telah sedikit terselamatkan meski dalam hati dia tengah merasa muak.

Untuk apa menanyakan orang yang tidak ada? Sangat tidaklah penting!

Malam ini, Seohyun memang tengah melanjutkan jadwal kerjanya yang begitu padat. Setelah pulang dari Gimpo lalu kembali ke Seoul memanglah sangat melelahkan. Tidak diberi cukup waktu, dia harus segera bergegas guna menghadiri pembukaan hotel baru dari salah satu rekan bisnisnya. Perlukah waktu untuk berdandan ala-ala wanita pada umumnya yang biasa menghabiskan waktu berjam-jam? Seohyun tentu perlu. Tapi dia tidak harus melakukannya dengan banyak membuang waktu. Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita itu untuk selalu memanfaatkan setiap waktunya dengan cermat dan tidak terbuang percuma.

“Baiklah. Aku harus menemui sumaiku dulu. Kau tidak keberatan aku tinggal, Seohyun?”

Gelengan Seohyun berikan dan itu cukup menjadi penyampaian terakhir sebagai pengantar kepergian sang teman. Seohyun mendesah ringan setelahnya. Dia mulai amati gelas dalam genggaman sebelah tangannya kemudian mengangkat wajahnya ke depan lantas puluhan manusia yang sejenis dengannya memang sanggup membuatnya harus membuang napas dengan sebal. Tidak bohong memang. Mereka semua hampir seratus persen datang berpasang-pasangan. Tidak seperti dirinya yang selalu sibuk sendiri. Melakukan segalanya sendiri seperti tidak bersuami.

“Tidak banyak yang bisa aku lakukan disini. Berlama-lama tinggal justru akan membuatku merasa muak. Segera datang lalu bawa sesegera mungkin aku dari sini!”

Sedikit menekankan suaranya, Seohyun memerintahkan seseorang melalui ponsel yang tengah dirinya pakai. Seohyun turunkan segera ponselnya setelah dia merasa cukup berbicara. Kemudian dia berjalan ke depan lantas menyapa seseorang.

“Tuan Jung” sapanya dengan ramah dan dibalas sama oleh orang yang dipanggil dengan sebutan tuan Jung atau lebih tepatnya Jung Youngjae, oleh Seohyun. Seohyun umbar senyumnya dengan manis “Pestanya sangat meriah dan menakjubkan” komentarnya basa-basi.

“Saya sangat senang dengan perkembangan bisnis anda. Semoga kesuksesan selalu ada di tangan anda, tuan”

“Ahaha terima kasih, Seohyun-ssi” timpal tuan Jung ramah “Doa anda tentu akan menjadi salah satu senjata yang kuat untuk kelancaran bisnis saya. Apa anda sudah mencicipi beberapa hidangan yang disediakan? Kenapa hanya membawa minuman saja? Ayo! Kau harus mencoba beberapa makanan yang ada. Banyak sekali menu baru yang kami hidangkan untuk pesta ini”

Seohyun menggelengkan kepalanya ringan seraya tersenyum “Tidak.  Terima kasih, tuan. Ini sudah cukup” tolaknya sopan dan sedikit membuat kerutan tampak di dahi tuan Jung. Seohyun melanjutkan “Saya harus segera pergi. Masih ada beberapa urusan yang belum saya selesaikan hari ini”

“Ah…kenapa begitu terburu-buru…?” tuan Jung tampak kecewa. Seohyun hanya umbar tawa ringannya demi tetap mencairkan suasana.

“Sebenarnya saya juga ingin sedikit berlama-lama disini mengingat pestanya sangat hebat. Tapi…” senyum kecut Seohyun tampilkan “Saya memang harus segera pergi. Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas udangannya, tuan”

“Cukup mengecewakan. Tapi baiklah. Tidak sopan juga jika harus menahanmu disini sedangkan anda masih mempunyai urusan yang lebih penting, benar?”

“Ahahaha ya…”

Denga segala basa basi ringan yang telah dilontarkan, Seohyun pun kini sudah mulai bisa terbebas. Dia berpamitan pada tuan Jung dan beberapa rekannya kemudia wanita itu melangkah cepat keluar dari gedung tempat pesta tersebut tengah dilangsungkan.

Napasnya seakan telah bisa terhembus dengan lega ketika pintu mobil telah terbuka dan tubuhnya dia dudukan dengan segera di mobil yang beberapa saat lalu telah sampai di parkiran gedung hotel baru tersebut.

“Jadi?”

Seohyun menoleh ketika sabuk pengaman telah dia gunakan. Bahunya dia angkat ringan “Menurutmu?”

Ketika pertanyaan singkat malah balik dilontarkan, tak perlu harus mendapat penjelasan lebih lanjut pun, si pengemudi yang menjemput Seohyun umbar senyumnya seraya dia mulai menancap gas lalu pergi jauh meninggalkan gedung yang sudah membuat Seohyun jenuh setengah mati.

©©©

Keromantisan tengah terjadi. 2 gelas berisi anggur tengah digenggam pada sebelah tangan keduanya. Alunan musik lembut diputar dengan volume yang cukup kemudian jangan lupakan di atas sana tepatnya atap yang jarakanya terlalu tinggi dari tempat keduanya tengah berpijak ada awan hitam yang dihiasi hamparan bintang bersinar dengan bulan menjadi raja cahayanya. Romantis dan penuh kegairahan. Suasana tersebut memang tercipta dengan sungguh menggiurkan. Ketika satu tatapan penuh kehagatan ikut diciptakan, maka tidaklah heran jika yang tengah berdiri disana begitu menikmati dan sangat tidak ingin untuk pergi dengan segera.

“Jika bintang bisa digapai dengan mudah, aku ingin memetiknya lalu kupersembahkan padamu”

Tawa ringan mengalun guna sedikit menertawakan kalimat basi yang nyatanya hanya bermaksud untuk menggoda. Si pria yang baru saja telah berucap ikut sunggingkan senyumnya menyadari jika ucapannya memang terlampau basi. Dia angkat bahunya lantas berdecak ringan.

“Kau tahu dengan benar bahwa aku tidaklah pandai merangkai kata-kata manis hanya untuk membuatmu merasa terhanyut. Tapi…” pria itu menyeringai kemudian dia rengkuh pinggang pasangannya dengan sebelah tangannya yang tak memegang gelas berisi anggur “Meski buruk dalam berkata-kata manis, aku tetap pandai karena bisa menjeratmu dalam pelukanku. Seperti saat ini” kerlingan dia ciptakan dan hal itu disambut senyuman tipis dari sang pasangan.

“Jangan lupakan jika awalnya akulah yang bertekad untuk menjeratmu”

Satu tawa kini dikumandangkan. Si pria, Cho Kyuhyun, mengumandangkannya dengan renyah “Kau tidak malu mengatakannya, huh?”

“Untuk apa harus merasa demikian?” wanita tersebut, Seohyun, menyahuti “Memang begitulah kenyataannya. Dan hal itu tidaklah membuatku merasa malu dikala aku memang jelas yang menginginkannya diawal. Justru aku sangat merasa senang karena itu berarti pesonaku begitu hebat karena mampu membuatmu mau untuk bertekuk lutut padaku hingga sejengkal saja aku pergi maka kau pasti akan memilih untuk mati”

Kyuhyun terkekeh kembali. Sangatlah dia merasa terhibur sekarang. Kalimat, suara serta aura ketika Seohyun berbicara sungguh begitu percaya diri. Namun, Kyuhyun tidak dapat mengelak jika dia sangatlah menyukai kepercayaan diri yang dimiliki Seohyun. Masih tidak dapat mengelak, dia pun menerima kenyataan bahwa pesona Seohyun memang telah membuatnya larut dalam keinginan untuk terus terbuai pada hubungan indah yang tengah mereka jalani.

“Baiklah…baiklah…kita keluar dari topik pembicaraan tentang siapa yang menjerat dan siapa yang pada akhirnya terjerat. Sudah pukul 11 malam. Apa kau tidak ingin pulang?”

Seohyun pudarkan senyum yang semula dia hidangkan. Kini kedua matanya menatap tak suka dengan jelas. Sebelah tangan Kyuhyun yang merangkul pinggangnya pun dia lepaskan dengan cepat kemudian Seohyun memilih duduk di depan meja bundar yang di atasnya tengah tersaji sebotol Sampanye dan sebuket bunga mawar putih yang wanginya sungguh semerbak.

“Bisakah kau tidak memperlakukanku seperti anak kecil yang harus mengingat jam pulang?” Seohyun bersahut dengan kesal. Gelas yang dia taruh di atas meja ikut dirinya cengkram “Aku sudah dewasa. Mau pulang atau tidak itu tidaklah masalah”

“Suamimu…” Kyuhyun bergumam pelan. Dengan sengaja dia biarkan dirinya langsung disambut tatapan tajam dari Seohyun. Perlahan dia pun ikut dudukan tubuhnya di depan Seohyun “Aku tahu kau paling tidak suka jika dia disebut ketika kita tengah bersama. Tapi kau juga harus tahu, Seohyun…”

Kyuhyun raih sebelah tangan Seohyun yang mencengkram gelas dengan lembut “Kau tidak bisa mengelak dari kenyataan yang ada. Meski kita saling menyukai hubungan ini, tapi harus selalu kau ketahui bahwa ketidaknyamanan selalu menghantuiku ketika sadar bahwa kau bukanlah milikku”

“Jadi kau merasa menyesal?” sungut Seohyun menyahuti “Jika kau merasa menyesal dan terpaksa, seharusnya kau tidak perlu meladeniku sejak awal!”

“Bukan begitu….” menyadari pembahasan semakin memanas, Kyuhyun tetap coba berbicara lembut “Aku hanya masih susah untuk menyesuaikan. Perasaanku seperti dihantui sesuatu yang menyesakan. Kecuali-“

“Apa?” timpal Seohyun cepat “Kecuali apa, Kyuhyun?” sambungnya dengan menatap penuh penasaran.

Kyuhyun hembuskan napasnya pelan lantas dia raih satu tangan Seohyun yang lain sehingga kedua tangan wanita itu kini ada di genggaman kedua tangannya. Pria itu menatap lembut namun penuh keseriusan “Bercerailah” ucapnya pelan membuat suara musiklah yang saat ini paling terdengar.

Dengan masih menatap sama, Kyuhyun melanjutkan “Lakukanlah hal itu jika kau ingin membuatku lebih leluasa menjalani hubugan ini dan setidaknya membuat perasaan tidak nyaman ini hilang dengan sendirinya”

Kalimat itu dengan cepat menohok hati Seohyun. Pandangannya seakan tenggelam dalam rasa kacau serta begitu terkejut. Permintaan untuk bercerai dengan suaminya yang dipinta oleh Kyuhyun  terus mengalun seirama dengan alunan musik yang terus berkumandang didekatnya. Seketika Seohyun merasa tubuhnya lemas.

©©©

Sebentar larut dalam lamunan, sebentar kemudian decakan dia kumandangkan. Tidak habis pikir!. Gumaman itulah yang dia kumandangkan sesaat. Konyol!. Lanjutnya masih dengan pelan namun penuh kegusaran. Lebih lama keresahan dia alami hingga mulai mencapai puncaknya membuat dia, Seohyun, pada akhirnya menggelengkan kepalanya hanya sekedar ingin melupakan permasalahan yang tengah dia pikirkan sejak semalam.

Tidak perlu untuk dipertanyakan kembali. Seohyun merasa senang berhubungan dengan Kyuhyun. Tapi jika harus sampai membuang suaminya demi bisa meneruskan hubungan gelapnya itu rasanya tidak bisa untuk Seohyun lakukan. Setidaknya sampai saat ini. Dia masih terlalu merasa berat hati jika harus memilih salah satu dari keduanya.

Lalu pikirannya yang kacau mulai teralihkan ketika satu panggilan dia dapatkan dari ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Satu alisnya terangkat hingga rengutan sebal mulai dia hidangkan setelahnya. Hembusan napas yang Seohyun ciptakan jelas menggambarkan bahwa dia merasa risih dengan si penelepon yang kini terus meraung, memanggil, menginginkan dia untuk sesegera mungkin mengangkat lalu mengucapkan ‘Halo’ sebagai bentuk jawaban.

“Ya” pada akhirnya Seohyun menjawab meski dua huruf berkurang dari ‘Halo’ menjadi ‘Ya’ saja “Ada apa?” sambugnya cepat merasa tidak sabar karena malas.

“Kenapa begitu ketus, sayang?” sahutan terdengar di seberang sana “Apa kau belum makan? Dimana posisimu sekarang, hmh?”

“Menurutmu?” dengan seadanya, jawaban kembali Seohyun berikan. Dan ketika dengan jelas nada suaranya sangat ketus, dari seberang sana suara si penelepon yang tak lain adalah suaminya dia dengar tengah terkekeh pelan. Seohyun tahu dengan pasti yang terjadi sekarang.

“Meski aku masih kesal karena kemarin kau malah mengabaikan acara keluarga dan lebih memilih untuk meneruskan pekerjaanmu sampai-sampai tidak pulang ke rumah, aku memilih untuk tidak akan meneruskan rasa kesalku ka-“

“Langsung saja!” Seohyun menyela dengan jengah “Jangan bertele-tele. Pekerjaanku masih banyak”

“Hemhh baiklah…” desahan pelan dikumandangkan oleh sang suami “Pulanglah sekarang ke rumah” sambung suaminya lembut.

“Orang tuaku memutuskan untuk tidak pulang hari ini ke Jepang. Mereka bersikukuh untuk ingin bertemu dahulu denganmu sebelum pulang kesana. Ayolah…kau tahu dengan benar jika mereka sangat merindukanmu”

“Ya aku tahu”

“Baguslah jika begitu. Sembari menunggumu, aku tengah membantu eomma memasak di dapur kita. Kau da-“

“Ya..ya..ya…tunggu saja!”

Ponselpun dimatikan dengan begitu cepat tanpa mau untuk mendengar segala yang tengah suaminya lakukan bersama mertuanya tersebut. Dengan sedikit malas, Seohyun segera raih tas tangannya untuk segera pulang ke rumahnya. Namun, baru saja dia berdiri dari duduk, ponselnya kembali berbunyi membuat dia harus berhenti sesaat.

“Sekarang? Aku tidak bisa, Kyuhyun…” dari nama yang dirinya sebut, jelas kini Seohyun tengah berbicara dengan Kyuhyun. Wanita itu berbicara sambil terus melangkah keluar “Hemhh ada urusan mendadak. Kau tidak keberatan kan jika nanti sore saja atau mungkin besok kita bertemu?”

“Kau memang selalu mengerti kondisiku” Seohyun tersenyum dalam langkahnya “Jangan lupa makan. Kau harus selalu menjaga kondisimu. Nanti aku hubungi lagi karena sekarang aku akan mengendarai mobil. Hemhh aku juga mencintaimu. Bye…” dan akibat telepon dari Kyuhyun, suasana hatinya sedikit lebih baik meski sebuah tawaran untuk bertemu yang dipinta Kyuhyun harus dirinya korbankan demi bisa memenuhi keinginan suaminya.

“Tidak apa. Aku masih bisa bertemu denganmu di waktu yang lebih dan lebih. Kau membuatku selalu tenang, Kyuhyun…”

©©©

Tentu saja tidak mudah melepaskan salah satu dari dua hal yang dianggap sama-sama penting meski tidak dapat dipungkiri jika disalah satunya lebih membuat hati bersuka cita. Antara suami dan selingkuhan. Geli dan memalukan rasanya jika harus menyebut dua hal itu saat ini. Namun, bagaimana pun dua hal itu adalah yang ada dalam hidupnya sekarang.

Seohyun merenung. Seohyun tengah mencoba memikirkan dengan sangat.

Di depannya sekarang tengah berdiri sosok pria tampan yang tidak bisa dikatakan buruk. Tidak hanya tampan, pria itu juga mempunyai postur tubuh yang tinggi. Selain dari hal fisik, pria itu pun adalah seorang pria muda yang sukses dalam pekerjaannya. Dialah suaminya, Choi Siwon. Jika harus bertanya pada salah satu atau beberapa wanita di luar sana, maka tidak akan ada yang berkata buruk. Pastilah mereka, para wanita tersebut akan sangat mengagumi sosok suaminya. Siapa yang akan menolak suami yang hampir sempurna seperti Choi Siwon? Tidak ada! Tentu saja tidak ada!. Dengan segala kelebihan yang pria itu miliki, wanita manapun pasti akan merasa yang paling beruntung jika sampai disunting oleh seorang Choi Siwon.

Lalu dirinya, Seohyun, apakah dia memiliki rasa keberuntungan yang pasti diucapkan para wanita di luar sana?

Tidak! Tentu saja tidak. Jika dia memang merasakan keberuntungan itu, Seohyun tidaklah mungkin melakukan sebuah hubungan gelap dengan seorang pria yang jelas bukanlah bagiannya. Cho Kyuhyun memang sama tampan dan suksesnya seperti Cho Siwon, suaminya. Namun, Kyuhyun memberinya lebih. Ada gairah lain yang Seohyun rasakan ketika bersama Kyuhyun. Sebuah gairah yang membuatnya selalu ingin dan ingin mencicipinya terus menerus.

Jangan katakan jika itu hanyalah sebuah nafsu duniawi semata. Selama mengarungi pernikahan bersama Siwon, banyak hal yang Seohyun merasakan kurang. Kurang perhatian karena Siwon yang terlampau sibuk sehingga mengharuskan selalu ditinggal ke luar kota hingga negeri, lalu Choi Siwon yang tidak peka. Setiap ada permasalahan yang terjadi, suaminya itu tidak pernah bisa bersikap selayaknya bagaimana seorang suami. Sedikit saja membuat suasana hati Seohyun membaik ketika masalah itu datang, Siwon tidak melakukannya. Selalu saja sang suami mengabaikannya dan menganggap setiap kemarahan yang dialami Seohyun hanyalah masalah kecil yang ketika pagi menjelang maka semuanya sudah beres.

Sedangkan Kyuhyun? Tidak perlu ditanya. Pria itu sudah pasti memiliki satu perbedaan itu yang tentu saja membuat Seohyun lebih merasa nyaman serta merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. Dan ketika kesuksesan juga Seohyun miliki ketika dia juga adalah seorang wanita karir membuat ambisi Seohyun menjadi berlebih.

Jika kebahagian tidak bisa aku dapatkan dari suamiku yang maha sempurna itu, maka jangan heran jika aku mencari kebahagiaan lain di luar sana. Toh aku adalah wanita yang cantik dan juga sukses. Siapa yang akan menolakku? Cho Kyuhyun adalah buktinya. Pria itu adalah bukti bahwa wanita yang cantik dan sukses bisa melakukan apa saja meski terhimpit masalah status. Tidak ada yang perlu diragukan. Lakukan saja selama semuanya tetap berjalan dengan lancar serta aman terkendali.

“Kalian sudah menikah hampir satu tahun lamanya” Nyonya Choi datang menghampiri Seohyun yang betah berdiri “Kapan akan memberiku cucu, hmh? Aku sudah tidak sabar ingin melihat Choi junior” tambahnya dengan kilat jenaka.

Seohyun balas menatap nyonya Choi dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Dalam hati dia melenguh. Sudah pasti pembahasan ini akan terjadi jika sudah saling bertemu. Itulah yang membuat dia malas jika harus mengikuti acara keluarga.

“Sabarlah, eomma” Siwon, yang tadi tengah berbincang dengan ayahnya pun balas menyahuti “Masih dalam proses. Jika sudah waktunya, aku dan Seohyun sudah pasti akan segera memberimu cucu. Benar kan, sayang?”

“Hehehe” kekehan kecilah yang Seohyun lontarkan. Beruntung sekali Siwon mau menjawabnya karena itu cukup membantunya agar tidak perlu untuk berusah payah dengan banyak basa-basi “Benar…”

“Ah…tapi kalian tahu jika kami sudah semakin tua. Cobalah untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama terutama kau, Siwon-ah…kurangi kegiatanmu yang sering bepergian jauh agar istrimu bisa segera hamil”

“Tentu, eomma…meski aku sering bepergian tapi untuk program anak, kami selalu menyempatkannya”

Dan ya…ya…ya…teruslah memberi alasan klise! Seohyun mengumpat dalam hatinya. Memang benar jika ada waktu yang dirinya berikan demi melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi tidak setiap ada suaminya. Karena apa? tentu saja karena meski Siwon ada di rumah, pria itu lebih sibuk dengan kegiatannya dari pada menyenangkan dirinya apalagi ingat dengan yang namanya berhubungan intim.

“Baiklah…kami akan sabar menunggu. Tapi jangan terlalu lama, ok!”

“Ok!, eomma, sayang….”

©©©

“Lega rasanya jika mereka pergi dengan senyum seperti tadi. Sekarang kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan tenang”

Di dalam kamar itu, Siwon tengah berbicara dengan pelan pada istrinya, Seohyun. Sentuhan lembut pun dia berikan demi bisa membuat suasana yang terjadi agar lebih romantis layaknya suami dan istri.

“Kau tidak merindukanku?” tanyanya pada Seohyun “Berbaliklah…aku ingin memuaskan mataku untuk menatap istriku yang sudah sangat aku rindukan”

“Untuk apa?” Seohyun balik bertanya “Untuk apa merindukanku sedangkan aku sendiri tidak merasa rindu terhadapmu”

“Seohyun…”

“Aku harus pergi” dengan membalikan tubuhnya sehingga kini kembali membelakangi Siwon, Seohyun kemas barang-barang penting miliknya ke dalam tas tangan kepunyaannya “Ada acara dengan beberapa teman lamaku”

“Malam-malam begini?”

“Apa kau pikir ini pagi?” Seohyun menyahuti kemudian dia mulai melangkah “Jangan tunggu aku. Mungkin aku tidak akan pulang. Kau tahu sendiri jika aku paling suka menginap di rumah teman-temanku. Disana lebih membuatku merasa betah dari pada di rumah suamiku sendiri”

Dan Seohyun pun pergi. Kepergian wanita itu membuat sudut hati Siwon meraup sedih karena setelah satu bulan lebih pergi ke luar negeri demi pekerjaannya, dia mesti harus tetap ditinggal. Padahal ini sudah hari kedua dia ada di rumah. Namun, kegagalan tetap dia dapatkan karena Seohyun selalu menghindarinya.

“Hati-hati di jalan” Siwon berucap mengantarkan kepergian Seohyun yang nyatanya sudah hilang dari balik pintu “Jika bisa…aku harap kau tetap pulang, Seohyun…”

©©©

Seperti sebuah kejutan, Kyuhyun umbar senyumnya ketika dia buka pintu maka wajah Seohyunlah yang hadir di depannya. Pelukan dan ciuman serta merta dia berikan pada kekasih tersayangnya itu demi meluapkan rasa bahagianya karena tidak menyangka bahwa wanita itu mendatanginya malam-malam begini setelah sebelumnya sempat mengatakan tidak bisa datang.

“Suamimu pergi lagi?” disela ciumannya, Kyuhyun bertanya dengan pelan “Itu sebabnya kau bisa datang menemuiku?”

“Emhh” Seohyun dorong pelan dada Kyuhyun sekedar untuk melepas ciuman lembut kekasihnya. Wanita itu menggeleng “Masih ada” jawabnya singkat kemudian melangkah untuk duduk di atas sofa.

Kyuhyun terkesiap sejenak kemudian dia tutup pintu rumahnya . Dia pun hampiri Seohyun “Lalu?”

“Lalu apa?” Seohyun menjawab kesal “Tentu saja aku bisa tetap kesini asal aku mau. Sudahlah…jangan bahas tentang dia karena itu akan membuat suasana hatiku menjadi lebih kacau”

Kyuhyun tersenyum menanggapi sikap Seohyun yang uring-uringan seperti itu. Dengan lembutnya, pria itu raih Seohyun dalam pelukannya kemudian memberi belaian mesra di punggung Seohyun agar tenang.

“Mau makan dulu apa langsung ke kamar, hmh?” Seohyun memukul pelan dada Kyuhyun sembari merengut kecil. Kyuhyun tertawa pelan “Baiklah…anggap saja kau sudah makan. Jika sudah begitu, itu berarti aku bisa membawamu ke kamarku. Bagimana?”

Dengan sedikit anggukan manja yang Seohyun tunjukan membuat Kyuhyun langsung mengerti. Dia pun dengan semangat segera mengangkat tubuh Seohyun dalam gendongannya menuju kamar milik Kyuhyun.

“Aku akan mengganti malammu yang rusak dengan berjuta kebahagiaan. Dan aku yakin kau akan sangat menyukainya”

“Karena kau tahu aku akan menyukainya, maka jangan lama-lama. Segera lakukan sebelum moodku kembali rusak”

“Dengan senang hati, sayang…”

Masuklah keduanya ke dalam kamar yang menjadi saksi bisu percintaan tak seharusnya itu dilakukan. Entah sudah yang keberapa mereka melakukannya. Nafsu akan kesenangan menjaga mereka dari kenyataan bahwa setiap hal yang keduanya lakukan pasti akan mendapat akibat yang setimpal. Hanya tinggal menunggu waktu. Bahagia atau menderita, waktulah yang akan menjawabnya.

©©©

“Oh? masih disini?” meski sedikit merasa terkejut melihat Siwon tengah duduk di ruang tamu, Seohyun terus lanjutkan langkahnya kemudian dia duduk di depan pria itu “Biasanya paling lama kau hanya dua hari ada di rumah. Wow! Ini benar-benar sebuah kejutan. Apa ada hal yang membuatmu memilih untuk tetap tinggal, suamiku…”

Siwon menanggapinya dengan santai ketika jelas dia dengar istrinya tengah meledeknya sekarang. Siwon angkat bahunya ringan kemudian dia raih dua buah kertas berukuran kecil namun panjang.

“Untuk kita” katanya sambil mengacungkan kertas tersebut. Siwon menurunkannya lalu menyodorkannya pada Seohyun “Sekitar dua jam lagi kita akan  berangkat. Bersiap-siaplah karena aku tidak ingin ketinggalan pesawat”

“Kau merencanakannya tanpa meminta persetujuanku?” tanya Seohyun sambil dia baca ulang deretan kalimat yang ada di kertas tersebut “Bagaimana bisa? Seharusnya kau bertanya terlebih dahulu padaku. Pekerjaanku sangat banyak dan kau-“

“Aku sudah menghubungi sekretarismu agar mencancel semua jadwalmu untuk hari ini dan besok” dengan mengabaikan ekspresi terkejut Seohyun, Siwon beranjak dari duduknya kemudian dia duduk di sofa Seohyun “Kita perlu waktu untuk bersama. Jika terus mementingkan pekerjaan maka selamanya anak tidak akan hadir dalam rumah tangga kita. Ahh…selain itu”

Siwon kerlingkan sebelah matanya sembari tersenyum nakal “Sebagai seorang pria, aku tentu perlu mendapat kehangatan dari istrinya”

©©©

Meski harus sedikit melakukan pemaksaan demi bisa menyentuh istrinya, pada akhirnya Siwon bisa melihat tubuh itu. Siwon bisa kembali merasakan setiap inci kulit istrinya yang sering dia abaikan karena terbelit masalah pekerjaan. Di ruang kamar yang bertempat di lokasi pantai Jeju yang dia gunakan untuk menjadi tempat bulan madu keduanya itu, Siwon sedikit menaikan alisnya hingga dia terpaksa mengamati tubuh istrinya dan tak lekas melanjutkan kegiatan intimnya saat ini.

Pikirannya melayang jauh pada titik heran yang berakhir pada sebuah kecurigaan. Tidak salah jika dia harus merasa curiga. Selama kepulangannya, Siwon belum sempat menyentuh tubuh istrinya itu. Namun….

“Apa yang sedang kau lakukan?” Seohyun sentakan suaranya dengan sebal “Jika kau hanya ingin melamun seperti itu maka sudahi saja. Aku sudah lelah”

Siwon menatap wajah istrinya yang di bawah kuasanya itu tengah memperlihatkan raut sebal karena dia tak kunjung melanjutkan aktivitas intimnya tersebut. Perlahan Siwon melanjutkan lagi kegiatannya pada Seohyun. Namun, meski dia terus melanjutkan, pikirannya menjadi tidak fokus. Rasa nikmat yang seharusnya dia rasakan menjadi tidak karuan karena terlalu memikirkan kondisi yang terjadi pada tubuh istrinya.

Milik siapa sentuhan merah yang ada di setiap inci kulitmu, Seohyun…apa..apa kau….?

©©©

Sepulang dari Jeju, Seohyun kembali melakukan aktivitasnya sebagai istri yang selalu ditinggal pergi suaminya bekerja. Bukan hal yang aneh dan perlu untuk dipikirkan. Justru hal ini menguntungkannya karena dia bisa kembali bebas bertemu dengan Kyuhyun.

“Jadi kemarin kau susah dihubungi karena pergi bersama suamimu?” sambil menyeruput tehnya, Kyuhyun bertanya pada Seohyun “Bagaimana, kau menikmatinya?”

“Kyuhyun….”

“Menikmatinya pun tidak masalah….” Kyuhyun menyela setelahnya “Kau dan dia adalah suami istri. Tidak ada larangan jika kalian pergi bersama kemudian melakukan banyak hal yang selayaknya dilakukan sepasang suami istri”

“Jika kau terus berbicara seenaknya, aku akan memilih pegi”

“Silahkan pergi tapi sebelumnya kau harus memberiku jawaban” sebelah tangannya menahan lengan Seohyun yang sudah akan berdiri. Kyuhyun balas menatap Seohyun yang tengah menatapnya bertanya “Sudah kau putuskan?” tanya Kyuhyun kemudian.

Kyuhyun lepaskan lengan Seohyun kemudian dia mengehela napasnya sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi “Aku bosan ketika kau belum bisa memberiku jawaban yang pasti”

“Kyuhyun kau itu-“

“Tetap bersamaku dan ceraikan suamimu atau tetaplah bersamanya tapi kita….hemhh kau tahu kelanjutannya”

Seohyun menatap Kyuhyun tak berkedip. Setelahnya dia alihkan pandangannya ketika dirinya memang tak bisa memberikan kepastian apapun dari permintaan Kyuhyun yang jelas-jelas sudah pria itu lontarkan dari jauh-jauh hari.

“Seperti suamimu, aku juga tidak kalah hebat. Kasih sayang, uang, dan banyak hal. Banyak hal yang bisa aku berikan demi bisa memuaskan segala kebutuhanmu” Kyuhyun berdiri. Dia masukan kedua tangannya di saku celananya lantas hadapkan tubuhnya tepat di depan Seohyun “Pikirkan lagi” sambung Kyuhyun pelan.

“Selama memikirkannya, aku tidak akan mengganggumu. Setelah kau keputusan, barulah kita bisa bertemu” kecupan singkat Kyuhyun berikan di pipi Seohyun sebelum akhirnya dia yang pergi terlebih dahulu.

Dalam posisi berdirinya, Seohyun menatap kepergian Kyuhyun. Dia sentuh pipinya pelan mengusap bekas kecupan dari Kyuhyun. Tangannya terangkat pelan sembari coba membuka mulutnya guna memanggil Kyuhyun. Namun, dia urungkan. Seohyun hempaskan sebelah tangannya itu kemudian dia memilih pergi. Dia pergi menuju mobilnya untuk segera pergi.

Di dalam mobilnya, Kyuhyun melihat Seohyun yang tengah memasuki mobil wanita itu dari kaca spion. Kyuhyun terkekeh ringan sambil dia menggelengkan kepalanya ringan.

“Hidup itu memang tidak bisa ditebak” ucapnya masih terus umbar senyum tipis “Ya…memang tidak bisa ditebak. Dan salah satu buktinya adalah bahwa aku telah terjerat oleh wanita sepertimu”

Dari belakang, mobil Seohyun sudah mulai melaju meninggalkan mobilnya yang masih terparkir tak kunjung pergi. Kyuhyun menghela napasnya “Wanita yang liar dan mampu mengikatku dalam kondisi yang jauh dari gayaku. Hahaha Ya Tuhan….semoga wanita itu memberiku keputusan yang aku harapkan. Semoga…semoga…hemhh”

©©©

Satu minggu telah berlalu dari hari terakhir ketika pertemuan itu telah terjadi. Seperti yang Kyuhyun katakan di hari tersebut, pria itu memang menepati ucapannya yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mengganggu Seohyun selama wanita itu belum memiliki satu keputusan yang pasti. Bagi Seohyun ini jelaslah tidak mudah. Hubungan indah dalam zona terlarang itu telah terjalin selama lebih dari 5 bulan. Dan rasanya sangat menyesakan ketika secara tiba-tiba komunikasi serta lainnya dihentikan begitu saja.

“Ayolah…bukankah pria itu hanyalah alat untuk mengalihkan kejenuhanku pada pernikahan ini, huh?” Seohyun melenguh pelan ketika dia banyak berpikir tentang hubungannya yang kian tak jelas bersama Kyuhyun. Dengan coba menganggapnya enteng serta mencoba berkilah dari kenyataan bahwa sejatinya dia memang benar-benar mencintai Kyuhyun, Seohyun umbar senyum yang meremehkan “Masih banyak pria lain. Jika pria itu sudah tidak mampu bertahan denganku maka akhiri saja. Toh masih banyak pria lebih yang pasti dengan suka rela mau bertekuk lutut padaku”

Seohyun mulai menumbuhkan kembali rasa percaya dirinya yang dulu pernah dia tanamkan ketika benar-benar merasa jengah pada Siwon, suaminya. Usia pernikahan yang masih seumur jagung tidak musti dia harus buat tetap baik-baik saja karena dengan pemikiran yang dirinya anggap pantas, Seohyun memilih jalan pintas dengan berlandaskan bahwa dirinya adalah wanita yang berbeda dari wanita lain pada umumnya. Wanita tidak harus selalu tunduk pada suami. Dan pemikiran dangkal itu berbuah pada hubungan terlarangnya bersama Kyuhyun. Lalu ketika kemarahan kembali dia rasakan, kini hal serupa dia lakukan. Kyuhyun mengabaikannya dan membuatnya kembali muak serta jenuh sama seperti Siwon. Hal itu patut membuatnya semakin memupuk keangkuhannya sebagai wanita. Selama masih mampu, tidak salah jika mencari kesenangan lain meskipun itu dengan jalan yang salah dan selalu salah.

“Ya…lebih baik mencari pria lain saja yang lebih menyenangkan. Buat apa mengalah pada Kyuhyun? Dia sendiri saja tidak mau mengerti keadaanku!”

.

.

Setelah satu minggu dilewati dengan susah payah, Seohyun akhirnya bisa mengarungi minggu-minggu berikutnya dengan tak lagi harus mengikutsertakan seorang Cho Kyuhyun. Dimana suaminya? Tentu saja suaminya tetap sibuk di luar negeri sana dengan pekerjaannya. Dan sekarang sudah di minggu ketiga. Wanita itu mencoba beberapa kali menerima tawaran seperti makan malam atau pergi ke luar bersama beberapa pria mapan serta tampan tentunya. Seohyun menikmatinya. Namun, hanya sebatas itu. Dia seolah terjerat pada kenyataan tak bisa melakukan lebih.

“Mereka semua membosankan!” rengutnya kesal sekaligus lelah “Hanya tampan dan kaya. Tapi mereka semua bodoh!”

Dihadapkan pada kenyataan tersebut membuat Seohyun mau tidak mau kembali diingatkan pada Kyuhyun yang tidak pernah memberi kesan bosan pada setiap langkahnya.

Seohyun berdecak “Dia saja bisa mampu mendiamiku sampai berminggu-minggu lamanya. Kenapa aku tidak? Oh Ya Tuhan….jangan katakan jika Kyuhyun memang sudah benar-benar mengikat diriku!!!”

©©©

“Kau merasa menang?”

Mendengar satu kalimat tanya itu sanggup membuatnya untuk kumandangkan tawa ringan sebagai pertanda bahwa dia merasa terhibur. Kyuhyun orang itu, pandang jenaka wajah sinis Seohyun yang sekarang menatapnya. Dia redakan tawa ringannya kemudian berdehem sejenak.

“Sudah kau putuskan?” pria itu balik bertanya “Sesuai perjanjian, saat kau menemuiku itu berarti sebuah keputusan telah kau ambil. Katakan, apa yang menjadi keputusanmu?”

Seohyun memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia mengumpat dalam hati untuk sejenak kemudian dia kembali membalas pandang wajah Kyuhyun yang masih setia menatapnya dengan santai.

Seohyun hela napasnya panjang ketika dia lihat Kyuhyun mengangkat bahunya santai “Aku kalah!” katanya singkat yang sejenak langsung ditanggapi kerutan kecil di dahi Kyuhyun. Seohyun melenguh pelan “Meski begitu, aku tetap perlu waktu. Tidak mudah bagiku jika harus secara tiba-tiba pergi dari kehidupan Siwon. Aku harap kau masih mau bersedia untuk bersabar”

Memuaskan. Ungkapan senang itu dikumandangkan Kyuhyun dalam hatinya ketika Seohyun memberinya jawaban akan penantiannya selama tiga minggu ini. Meski terkesan ogah-ogahan dalam mengungkapkannya, serta tidak singkat saja seperti ‘aku memilihmu’ atau ‘aku akan bercerai’ tapi Kyuhyun tetap bersyukur karena pada akhirnya Seohyun menjatuhkan pilihan padanya.

“Berapa lama?”

Seohyun menatap diam ketika Kyuhyun berikan pertanyaan lagi padanya. Wanita itu mencoba menampilkan wajah santai “Secepatnya” singkatnya yang langsung disambut anggukan mengerti oleh Kyuhyun.

Kyuhyun lantas lebih memperdekat jaraknya pada Seohyun. Dia sentuh kedua bahu Seohyun kemudian pria itu peluk tubuh Seohyun dengan begitu lembut “Terima kasih” katanya pelan dengan ikut memejamkan mata ketika kerinduan menyeruak bebas dalam dirinya saat kebahagian kembali pria itu rasakan tatkala telah bisa menghirup aroma tubuh wanita yang sudah dia rindukan selama tiga minggu lamanya itu. Penantiannya sukses besar. Meski berawal dari cara kotor, kini tak lama lagi dia bisa memiliki wanitanya dengan penuh. Dengan cara yang bisa dia sebut  layak.

©©©

Dua bulan setelah 3 minggu lamanya diarungi dengan keresahan kini, Seohyun dan juga Kyuhyun sudah kembali menjalani kisah asmara terlarang mereka seperti sedia kala. Meski belum kunjung mengajukan permintaan cerai pada Siwon, suami Seohyun, namun keduanya masih akan tetap melalukan niat mereka untuk resmi bersama sampai akhirnya Siwon kembali dari dinas kerjanya di luar negeri.

Dan detik ini, Seohyun mulai mengerjapkan kedua matanya pelan. Kerjapan yang dilakukan kedua matanya dibarengi dengan rasa berbeda yang dialami oleh perutnya. Tubuhnya bangun dengan cepat. Dia lebarkan kedua matanya hingga satu gerakan cepat dia lakukan ketika tubuhnya bangkit membuat tempat tidurnya bergoyang membuat sosok yang juga turut ada di tempat tidur itu pun ikut terganggu akibat ulah Seohyun.

Dia melenguh pelan “Seohyun…ada apa…?” sambil bertanya, pria itu, Kyuhyun, menguap pelan lantas mengucek kedua matanya yang terasa masih lengket akibat terlalu lelap dalam tidur. Dengan samar, dia saksikan Seohyun tengah terbirit-birit berlari ke kamar mandi “Seohyun….aasshhh”

Kyuhyun mengakhirinya dengan desahan kecil ketika Seohyun mengabaikan panggilannya dan malah terus pergi ke kamar mandi. Kyuhyun pun dengan berat hati harus bangun dan dia mulai melangkah ke depan demi membuka gorden jendela kamarnya yang luas dan indah. Udara segar pun pria itu peroleh ketika tidak hanya gorden namun pintu jendela pun dia turut buka. Kyuhyun hirup udara sebanyak mungkin menikmati kesegaran yang ada.

“Sudah selesai” katanya santai sambil menoleh ke samping dimana Kyuhyun sadari kemunculan Seohyun dari kamar mandi “Ada apa? kenapa begitu terburu-buru? Apa kau mengalami diare, hmh?” guraunya pelan dengan ikut terkekeh kala berpikir Seohyun memang mengalami diare seperti yang dirinya ucapkan.

Kyuhyun melangkah ke arah Seohyun lantas sentuh dahi Seohyun pelan “Kau baik-baik saja, sayang? Wajahmu pucat sekali” komentarnya kemudian semakin menilik wajah pucat Seohyun yang sangat kentara saat ini. Kyuhyun mengerutkan dahinya “Kau sakit? Apa perlu kita pergi ke dokter?”

Seohyun mengangkat wajahnya lantas dia menggeleng pelan di hadapan Kyuhyun “Tidak perlu” sahutnya kemudian wanita itu memilih duduk di atas ranjang. Wajahnya yang tampak sangat pucat dia tambah dengan raut yang begitu kacau. Kediaman wanita itu hadirkan kala keterpakuan kerap dirinya lakukan.

“Seohyun-“

“Apa mungkin….”

Kyuhyun angkat kembali satu alisnya ketika panggilannya yang belum selesai disela oleh gumaman tak jelas oleh Seohyun.

Kyuhyun pun mulai berjalan kemudian pria itu berjongkok di depan Seohyun “Ada apa, hmh?”

“Kyuhyun” Seohyun membalas tatapan Kyuhyun dengan risau. Bibirnya bergetar pelan “Apa mungkin…” kata-katanya tak kunjung Seohyun selesaikan. Wanita itu remas kesepuluh jemarinya dengan begitu gusar.

“Kyuhyun-“

“Ya” sahut Kyuhyun cepat “Ada apa? kenapa, sayang?”

“A-aku…” Seohyun semakin terbata. Dia pejamkan erat kedua matanya kemudian membukanya dengan amat sangat resah. Bibirnya yang bergetar kini dia gigit kecil merasakan ketidaknyamanan yang semakin kentara “A-apa…a-apa mungkin a-aku ha-hamil?”

Waktu seakan berhenti sesaat ketika kata ‘Hamil’ terucap dari bibir merah Seohyun yang kini memucat. Seohyun menatap penuh wajah Kyuhyun yang hanya menatapnya tak berkedip. Sejenak dia kerutkan dahinya lantas wanita itu sentuh kedua tangan Kyuhyun dengan begitu khawatir.

“Apa mungkin aku hamil, Kyuhyun?”

“Huh?” Kyuhyun melenguh kala menjawab. Sesaat dia hanya bisa menatap Seohyun dengan aura tak jelas hingga beberapa saat kemudian pria itu mulai kekehkan suaranya “Kau ini…hahaha” lantas kedua tangan Seohyun yang menggenggam erat tangannya pun dia lepaskan.

Kyuhyun helakan napasnya kemudian dia mulai berdiri dari posisi berjongkoknya “Efek terbangun dengan cepat karena diare membuatmu menjadi berpikiran aneh” katanya mencoba kembali tenang “Bangunlah dari dudukmu kemudian lekaslah mandi. Kita sarapan bersama karena kau atau aku harus pergi ke kantor”

“Seohyun” Kyuhyun membalikan tubuhnya ketika Seohyun tak lekas menyahuti. Dia saksikan Seohyun masih terduduk dengan pandangan kosong “Apa yang sedang kau pikirkan sa-“

“Tidak” gumam Seohyun gemetar dan sangat pelan membuat Kyuhyun kembali dirundung kekacauan “A-aku…aku ti-tidak diare, Kyuhyun”

“Lalu?”

Seohyun menatap Kyuhyun yang berdiri di depannya. Dalam pandangannya pun sebuah pemikiran tengah terjadi pada benaknya. Baru Seohyun sadar jika dia sudah beberapa hari telat datang bulan. Jadi, tidak salah kan jika pemikiran bahwa dia hamil langsung terlintas di otaknya? Dia pun bangkit dari duduknya lantas posisikan dirinya menghadap Kyuhyun “Aku hamil” katanya jelas dan tidak lagi terbata.

Sejenak keheningan terjadi karenanya. Tidak hanya Kyuhyun yang semakin tak bisa berucap apapun, Seohyun pun tengah diam menanti reaksi apa yang akan Kyuhyun berikan atas pemikirannya saat ini.

“Tidak mungkin” jawab Kyuhyun seadanya kemudian dia mulai mengalihkan tubuhnya guna berbalik hendak menghindari pembahasan yang terjadi.

“Kenapa tidak mungkin?” dengan segera, Seohyun menyahuti dengan dia raih bahu Kyuhyun untuk kembali menghadap ke arahnnya “Apa yang membuatmu berpikir jika hal ini tidaklah mungkin, Kyuhyun?”

Kyuhyun dibuat bingung atas pertanyaan Seohyun. Cukup simple saja. Yang dia tahu, selama melakukan hubungan intim dengan Seohyun, pria itu selalu memakai pengaman. Dan satu hal yang patut diingat bahwa Seohyun mempunyai suami. Jadi…

“Kyuhyun-“

“Jika memang benar kau hamil sekarang, menurutmu anak siapa yang tengah kau kandung?” Kyuhyun berucap cukup lantang dan hal itu sanggup membuat mulut Seohyun terkatup rapat. Kyuhyun mengusap belakang rambutnya resah “Aku selalu memakai pengaman. Apa yang menjadi alasan kau bisa hamil?”

“Pengaman tidak menjamin 100% bahwa kita aman, Kyuhyun”

“Lalu suamimu” Kyuhyun menjawab “Apa kau melupakannya?”

Seohyun dibuat terkejut atas lontaran kalimat yang Kyuhyun ucapkan sekarang. Dengan perasaan tak menentu, dia dipaksa untuk semakin kebingungan kala Kyuhyun bertanya diperihal tentang sang suami.

“Kau melupakan suamimu, hmh?”

“Jadi kau berpikir anak ini adalah benih Siwon?”

“Kenapa tidak?” dengan mencoba santai, Kyuhyun menyahuti “Kalian adalah suami istri. Tidak seperti denganku, suamimu itu pasti tidak pernah memakai pengaman ketika berhubungan denganmu”

“Tapi dia selalu bepergian dan tidak sesering saat bersamamu, Kyuhyun!!!” Seohyun berteriak saat dia kumandangkan suaranya. Tenaganya seakan terkuras kala wanita itu mencoba teguh pada pendiriannya “Ketika Siwon pulang, dia tidak selalu menyentuhku-“

“Itu bukanlah alasan yang kuat”

“Apa?” hatinya meradang. Seohyun mulai tak mengerti dengan jalan pikiran Kyuhyun yang jelas tidak mempercayainya “Kau meragukanku?”

“Bukan begitu, Seohyun…tapi-“

“Kau meragukanku, Kyuhyun!” Seohyun kembali tinggikan suaranya. Kedua matanya mulai digenangi air membuat bola matanya memerah “Aku menyukaimu dan semua yang kita lalui sangat membuatku terbuai pada sebuah rasa semangat. Tapi kau meragukanku!”

Wanita itu tak bisa bertahan lagi. Air matanya sukses keluar ketika rasa sakit menyeruak di dalam hatinya “Sungguh aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan seperti ini, Kyuhyun…tidak…tidak pernah!”

“Seohyun, aku-“ Kyuhyun mencoba menenangkan Seohyun yang sekarang tengah bergegas mengganti pakaiannya. Pria itu dibuat gusar “Aku tidak bermaksud begitu”

“Sudahlah” Seohyun menyahuti dengan sedih “Aku rasa kau memang tidak benar-benar menyukaiku” secara cepat, pakainnya pun selesai wanita itu kenakan.

Seohyun meraih tas tangannya lantas menatap Kyuhyun dengan amarah serta kekecewaan yang mendalam “Kau membuatku kecewa, Kyuhyun” lalu pergilah wanita itu dari hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun memejamkan kedua matanya ketika pintu dibanting dengan keras oleh Seohyun saat wanita itu pergi meninggalkannya. Rasa ingin mengejar Seohyun agar mau tetap tinggal di rumahnya guna menyelesaikan masalah yang terjadi pun hilang entah kemana. Kekacauan yang melanda hati pria itu membuatnya seakan lumpuh serta bisu. Kyuhyun hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar kemudian helakan napas berulang-ulang.

“Maafkan aku, Seohyun…aku-aku hanya masih sangat bingung”

©©©

“Senang sekali menilahtmu pulang, sayang” Seohyun sungguh terkejut ketika dia masuk, sebuah suara yang tak asing langsung menyambutnya dengan begitu hangat “Sudah aku duga kau pasti pergi lagi bersama teman-temanmu sampai-sampai kau menginap di rumah mereka”

“Bagaimana, apa kau sangat menikmati malam bersama teman-temanmu, hmh?”

Pemilik suara itu, Siwon, lanjutkan kalimatnya. Seohyun yang kala itu masih cukup terpaku dengan kepulangan Siwon yang tak dirinya sangka pun mulai coba untuk benahi diri agar bisa kembali tenang.

Seohyun tersenyum simpul “Tentu saja”jawabnya lantas bergerak dari hadapan Siwon “Kapan kau pulang?” katanya mulai bertanya ketika telah duduk di atas sofa.

Siwon bergumam pelan “Tadi malam” katanya yang sedikit membuat Seohyun kembali terkejut. Siwon hadirkan senyumnya “Melihat kenyataan kau tidak ada di rumah sedikit membuatku sedih. Tapi sudahlah tidak apa-apa. Aku tahu kau pasti jenuh jika harus tinggal sendiri di rumah sebesar ini”

“Kenapa tidak meneleponku?”

“Ingin…tapi aku urungkan” sahut Siwon kemudian dia melihat jam tangannya “Sudah siang. Segeralah mandi” sambungnya mengalihkan pembicaraan.

Seohyun memutar bola matanya “Aku ingin kembali tidur. Pesta semalam masih sangat membuatku ngantuk”

“Tidak bisa, sayang…” Siwon kekehkan suaranya. Dia sentuh rambut Seohyun kemudian kecup dahi Seohyun lembut “Kau harus membantuku”

“Huh?” lenguh Seohyun heran.

Siwon tampilkan wajah santainya “Sebentar lagi akan ada banyak orang yang datang untuk membereskan rumah kita” sambungnya yang tentu mengundang tanya dari Seohyun. Siwon menambahkan “Aku akan mengadakan pesta di rumah ini. Kau tahu, demi membuatmu tidak kesepian lagi, aku akan membuka anak perusahaan di kota ini. Dan seperti tebakan yang sudah hadir di benakmu, mulai saat itu aku akan lebih sering ada di rumah”

©©©

Kapan dia merencanakannya?

Satu pertanyaan itu tengah hadir di benak Seohyun saat ini. Satu gelas berisi minuman tengah ada di salah satu genggaman tangannya. Dengan dibalut gaun merah yang otomatis membuatnya terlihat sangat cantik sekarang, wanita itu memandang penuh tanya suaminya yang sekarang tengah mengobrol bersama teman-teman seprofesinya. Satu hal yang paling Seohyun pikirkan serta cemaskan saat ini.

Jika Siwon ada di rumah, hal itu otomatis akan membuatnya menjadi sulit berhubungan dengan Kyuhyun. Kecuali kalau dia segera menggugat cerai suaminya. Namun dengan alasan apa? Tanpa Kyuhyun ketahui, sesunggunya selama ini Seohyun masih belum bisa memutuskan apapun. Memang benar dia berkata bahwa dirinya akan menggugat cerai Siwon tapi kenyataannya hal itu hanyalah Seohyun katakan sebagai cara agar Kyuhyun tidak selalu mendesaknya.

Dan di satu kerumunan itu, Siwon tampak begitu bahagia. Gelak tawa sesekali dia hadirkan ketika berbincang dengan para relasinya. Terkadang mereka bersulang untuk menikmati pesta atas rencana dibukanya anak perusahaan baru kepunyaan Siwon yang untuk pertama kalinya dia buka di tanah kelahirannya sendiri.

Siwon tertawa dengan bahagia hingga satu pandangan cepat dia tujukan pada seseorang yang baru menampakan batang hidungnya di pesta tersebut “Tuan Kyuhyun!” sapanya cepat dengan suara yang cukup lantang.

Tanpa bisa menghindar dari suara itu, Seohyun dibuat ikut terkejut hingga tidak sadar kedua matanya sangat terfokus pada sosok Kyuhyun yang telah dipanggil oleh suaminya.

“Saya senang karena anda mau menerima undangan dari saya, tuan” Siwon menjabat tangan Kyuhyun dengan begitu semangat “Sebelumnya saya pikir anda tidak akan datang”

Kyuhyun tersenyum tipis “Undangan anda sangat mendadak. Tapi untung saja pekerjaan saya tidak terlalu banyak hari ini karena itulah saya tetap bisa menyempatkan diri untuk menghadiri pesta di rumah anda”

“Hahaha saya sangat bersyukur atas hal itu. Karena sungguh akan disayangkan jika seorang pengusaha sukses seperti anda tidak datang ke acara saya”

“Terima kasih atas pujiannya, tuan”

“Itu kenyataan, tuan Kyuhyun…bukan hanya sekedar pujian hahaha”

Kyuhyun membalas tawa semangat Siwon dengan cukup senyuman tipis. Sesungguhnya di balik senyuman itu, ada satu pandang yang selalu dia lakukan guna mencari sosok Seohyun.

Dimana dia?

“Ayo! Kemarilah, tuan. Saya akan mengajak anda untuk bersulang bersama rekan-rekan saya”

“Ya…tentu”

Kyuhyun mengikuti langkah Siwon yang mengajaknya untuk berkumpul bersama para pengusaha lain yang juga turut dirinya kenal. Sejatinya dia juga mengenal Siwon. Ah tidak. Lebih tepatnya dia mengenal cukup baik sosok Siwon yang nyatanya adalah partnernya pada anak perusahaannya yang lain yang ada di luar negeri. Dan nyatanya akibat hal itu pula, dia bisa mengenal Seohyun sampai-sampai hubungan gelap itu pun bisa terjalin.

Jika sekarang Kyuhyun tengah mncoba untuk berbaur dengan tenang serta santai bersama Siwon dan rekannya, maka berbeda dengan Seohyun yang jelas memperlihatkan ketakutan kala melihat dua pria yang ada dalam hidupnya tengah bersama seperti saat ini. Ada satu masa ketika Seohyun dan Kyuhyun saling bertatapan. Dan satu masa itu seakan terjadi gejolak amarah, kesal, serta ketakutan yang terjadi secara bersamaan. Apalagi ketika hal itu langsung diingatkan pada kejadian tadi pagi ketika Seohyun berpikir dirinya hamil.

Dan pemikiran tentang kehamilan itu langsung diamini ketika kembali Seohyun merasa mual di perutnya. Wanita itu kembali tampilkan wajah pucatnya. Sebelah tangannya pun mencoba menyentuh perutnya dengan  cukup kuat. Kyuhyun yang melihat itu seakan ingin segera menghampiri Seohyun lalu bertanya pada wanita itu. Namun, kondisi ini…

“Ah ya..tuan Choi” salah satu relasi Siwon bersuara “Katanya anda ingin memperlihatkan tentang rencana pembangunan perusahaan baru yang akan anda lakukan. Bisakah sekarang? Saya sudah tidak sabar ingin melihatnya”

Siwon seperti  disadarkan. Dia pun mengangguk cepat lantas umbar senyumnya dengan pasti “Untung anda mengingatkan saya, tuan” sahutnya semangat “Apa yang anda ingin lihat pastinya juga ingin dilihat oleh relasi-relasi kita yang lain, benar?”

Semua yang ada di kerumunan itu pun mengangguk mengiyakan. Tidak terkecuali Kyuhyun. Meski dia masih diliputi keresahan kala mengingat kondisi Seohyun dari kejauhan, pria itu tetap coba untuk tenang serta bersikap biasa.

Siwon pun segera beranjak dari posisinya. Dengan memerintahkan beberapa orang pria, dia menyuruh pria-pria itu untuk membawa lalu menyiapkan sebuah LCD Proyektor. Lampu ruangan dengan sengaja diredupkan. Siwon menatap kesemuanya dengan begitu percaya diri. Ada satu jeda  dimana sebuah senyum lain terpatri dari wajahnya yang tirus. Siwon berdehem sejenak sebelum akhirnya dia mulai nyalakan alat tersebut yang kemudian gambar pun mulai muncul di layar proyektor yang tengah digunakan.

 “Hueeee” baru saja sebuah tampilan yang sudah disiapkan akan diperlihatkan oleh Siwon, suara mual Seohyun mengalihkan perhatiannya. Tidak hanya dia, semua tamu yang hadir juga ikut memusatkan kedua matanya pada sosok Seohyun “Hueeee”

“Sayang!” Siwon bergerak cepat. Dia hiraukan layar  proyektornya serta melupakan niatnya yang akan memberi penjelasan panjang lebar yang sudah dirinya hafalkan sebelumnya. Kedua tangannya segera menyentuh bahu Seohyun “Kau kenapa?”

Dari tempat lain, Kyuhyun pun ingin ikut menghampiri Seohyun. Dia remas kelima jemarinya kuat tatkala dia sadar tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa berdiri percuma dan cukup memandang kekhawatiran yang diberikan Siwon untuk Seohyun. Kyuhyun sadar betul dengan kondisi yang terjadi pada Seohyun. Andai saja tidak sedang banyak orang, dia ingin sekali menjadi yang pertama menghampiri Seohyun lalu menanyai keadaannya.

“Apa kau sakit?” kembali Siwon bertanya. Seohyun yang terus diberi tatapan khawatir tidak bisa menjawab apapun karena terlampau bingung. Hingga akhirnya kegaduhan lain terjadi ketika orang-orang yang ada di ruangan itu bergumam seraya berdecak seolah begitu jiji serta sangat merendahkan apa yang mereka lihat sekarang.

“Apa-apaan ini?”

“Bagaiaman mungkin hal semenjijikan ini bisa terjadi?”

“Sungguh tidak disangka”

“Dia Cho Kyuhyun? Itu anda, tuan Cho Kyuhyun?”

“Itu nyonya Choi. Dia istrinya tuan Siwon”

“Ah…benarkah? sungguh sangat memalukan!”

Mereka berucap dengan seenaknya dan saling menimpali satu sama lain.

Layar yang seharusnya memperlihatkan rancangan perusahaan baru yang akan Siwon bangun nyatanya memperlihatkan hal lain.Sebuah tontonan dimana sepasang wanita dan pria tengah memadu kasih dengan sangat menggairahkan tanpa sehelai benang pun.

Semua menjadi kacau serta tak terkendali. Kyuhyun, orang yang menjadi salah satu objek dalam tontonan itu pun tak bisa tinggal diam. Dengan percuma dia halangi layar tersebut dengan sedikit berteriak agar semua tamu diam dan tidak terus berbicara saing bersahutan seperti sekarang.

“Saya bisa jelaskan! Tolong semuanya, tolong untuk tenang!”

Disaat Kyuhyun tengah mencoba untuk meminta pengertian para tamu meski harus diberi cacian, di sisi lain, tepatnya di tempat Seohyun serta Siwon tengah berada, dua orang itu tengah saling balas menatap dengan tegang. Seohyun lepaskan kedua tangan Siwon di bahunya dengan cepat. Dia menggeleng keras di hadapan pria itu dengan mulutnya ikut bergumam pelan seolah tengah mencoba membela diri.

 “Tuan Siwon” salah satu relasinya bersuara “Bisakah anda menjelaskan hal ini? Kenapa rancangan perusahaan baru anda berubah menjadi tontonan menjijikan dari istri anda dan tuan Cho Kyuhyun?”

Siwon mendengar pertanyaan itu. Dia mengangkat satu tangannya ke atas lalu menyuruh seseorang untuk mematikan mesin proyektor yang terus menyala. Lampu ruangan pun mulai kembali dinyalakan sehingga kini raut resah serta ketakutan dari Kyuhyun dan juga Seohyun semakin terlihat dengan sangat jelas.

“Kau bisa memberikan penjelasan untuk hal ini, Seohyun?” kalimatnya terlontar dingin. Kesakitan kembali dirasakan bahu Seohyun ketika Siwon mendekatinya lalu mencengkramnya kuat “Apa maksud dari semua ini, Seohyun? Bisa kau jelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?”

“Tuan Choi aku bisa-“

“Diam kau!” Siwon menyahuti sahutan Kyuhyun dengan penuh amarah. Satu pandangan mematikan pun turut Siwon berikan pada Kyuhyun. Setelahnya dia kembali menatap Seohyun dengan sangat murka “Katakan, Seohyun! Bagaimana bisa ini semua terjadi?”

“Tidak!!!!” dengan sangat kencang Seohyun teriakan mulutnya untuk bersuara. Sebentar dia edarkan pandangannya ke arah semua tamu lalu sebentar kemudian dia kembali membalas menatap Siwon. Kepalanya menggeleng kasar “Tidak! Tidak!” katanya berulang dengan sangat ketakutan.

Seohyun lepaskan tautan tangan Siwon yang ada di bahunya dengan kasar. Dia kembali berjalan mundur dengan pelan seraya tetap gelengkan kepalanya ditambah isakan kecil pun dia turut berikan demi tetap menyangkal apa yang tengah terjadi saat ini.

“Ini semua tidak benar” gumamnya takut-takut ketika tetap beranikan memandang wajah-wajah itu yang kini melihatnya dengan sangat rendah “Tidak begitu….tidak! tidak!!!”

©©©

Mungkin skala kecurigaan yang tengah pria itu rasakan belumlah seberapa. Namun, rasa keingintahuannya yang begitu dalam membuatnya berpikir untuk melakukan sesuatu. Siwon, pria itu, secuil pun masih belum bisa melupakan bayangan ketika melihat begitu banyak tanda merah yang ada di setiap bagian kulit istrinya yang begitu intim. Dia bukan anak kecil. Siwon memang sudah dewasa dan dia telah menjadi seorang suami. Melihat tanda-tanda seperti itu tentu saja tidak membuat dia buta pada satu kenyataan bahwa  sesuatu yang pahit telah terjadi.

Dan saat ini ketika pria itu tengah berada di London, Siwon menguatkan tekadnya untuk mencari tahu meski sedikitnya dia berpikir bahwa ini terlalu berlebihan. Dia akan dicap sebagai suami yang tidak bisa mempercayai istrinya. Seohyun pasti terluka jika tahu dia melakukan ini. Tapi, Siwon bisa apa. Hanya sekali saja. Hanya sekali ini saja dia ingin memastikan serta berharap bahwa pemikirannya itu salah. Itulah yang dia inginkan dari penyelidikan yang akan dia lakukan pada istri tercintanya.

Walau kekacauan serta keresahan selalu melanda pria itu disetiap harinya, Siwon selalu mencoba untuk profesional. Dia tetap melakukan dengan baik segala tugasnya hingga hari itu tiba. Hari dimana orang suruhannya telah mengirimkan semua informasi yang telah dia inginkan dari penyelidikan tersebut.

Melalui sebuah email, dia lihat semuanya. Semua bukti dari mulai foto hingga beberapa keterangan yang telah ditulis oleh orang suruhannya. Sungguh pria itu terlihat sangat menyedihkan. Tanpa perlu membaca keterangan serta penjelasan lebih lanjut orang suruhannya tersebut, foto-foto yang telah dikirimkan padanya sudah menjadi jawaban bahwa kecurigaan yang telah dia rasakan memang telah terbukti. Istrinya berselingkuh. Wanita yang dia puja-puja, wanita yang paling dia cintai, wanita yang telah dia persunting meski berlandaskan pada sebuah perjodohan ternyata telah menghianatinya dengan sangat kejam. Itulah kepahitan yang tengah dia alami saat melihat segala bukti tersebut. 

Tak perlu digambarkan bagaimana roman wajah yang tengah pria itu tampilkan saat ini. Kekecewaan serta amarah pastinya tengah menguasai dirinya sekarang.  Ketika istrinya tengah bersenang-senang dengan pria lain saat ini maka di saat ini pula, dia, Siwon tengah meradang pada kemurkaan yang begitu hebat.

Dan kejadian di malam ini adalah bukti dari kesabaran Siwon yang mencoba untuk terus mengulur waktu dan membiarkan istrinya bersenang-senang sesuka hati di atas penderitaannya. Tidak akan dibantah. Kejadian saat pesta adalah rencananya. Siwon sengaja memperlihatkan aib istrinya, aib keluarganya di depan semua orang karena terlalu marah serta sakit hati.

Lalu malam seakan menertawakan kegetiran yang terjadi. Di luar sana hujan tengah mengguyur dasar bumi dengan begitu deras. Tidak hanya itu, petir pun saling bersahutan seolah tengah membuat nada yang begitu menakutkan. Dan di dalam sana, masih di rumah yang menjadi akhir dari kisah bahagia atas pesta yang telah berakhir dengan sisa-sisa kepedihan itu kini hanya disisakan oleh tiga orang yang masih menyimpan banyak hal dalam dirinya dengan tidak begitu rapih.

Ketakutan, kemarahan, rasa malu dan terhina seolah menggentayangi ketiga orang itu. Tidak dapat dipungkiri jika saja boleh dilakukan maka mematikan salah satu atau keduanya adalah yang paling orang itu inginkan. Keinginan itu tersimpan dalam hati yang kini dipendam rapat-rapat oleh Siwon. Sosok yang paling merasa tersakiti dengan apa yang telah menimpanya.

“Mungkin kalian pikir bahwa kalian adalah yang paling pintar disini. Namun, yang terjadi adalah salah!” Seohyun dan Kyuhyun mengangkat wajahnya menatap Siwon yang bersuara pelan namun sangat dingin. Siwon membalasnya dengan santai “Kalian tahu, ini semua adalah disengaja. Ingin dengar lebih jelas, hmh? Semuanya disengaja! Yang terjadi tadi adalah memang kesengajaan!!!”

Tidak mungkin bisa mengelak dari rasa terkejut. Seohyun maupun Kyuhyun jelas harus sangat dikejutkan atas penuturan yang Siwon berikan saat ini. Begitu lekat, mereka memandang Siwon secara bertubi dengan pandangan tak menyangka dan rasa marah. Jika seharusnya yang harus marah adalah Siwon maka sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Amarah mulai memuncaki benak Seohyun dan Kyuhyun.

“Kalian marah…kalian merasa terhina atau kalian merasa sangat murka maka silahkan!” Siwon kembali berucap. Kekehan kepedihan tengah dia kumandangkan. Namun, pria itu tengah berupaya untuk tetap kuat meski nyatanya dia adalah yang paling terluka “Yang aku lakukan adalah setimpal dengan kebusukan yang sudah kalian perbuat padaku!”

Seohyun menghapus air matanya pelan. Wanita itu lantas berdiri dari duduknya. Tidak ingin dia rasakan lagi rasa mual yang selalu menyeruak diseluruh perutnya karena sekarang amarahlah yang sangat mendominasi dirinya. Seohyun berdiri dan ke hadapan Siwonlah dia berpijak sekarang.

“Sejak kapan kau mengetahuinya?”

Siwon melongo sesaat. Untuk sekian detika dia lakukan itu sampai beberapa detik kemudian decakan dia lakukan “Tidak adakah pertanyaan lain yang ingin kau sampaikan, istriku?” katanya balik bertanya dan seolah meledek di kata ‘istriku’ yang sungguh sangat memuakan jika harus diucapkan setelah kebusukan telah dirinya ketahui “Mungkin ada yang harus kau rubah seperti apa kau sakit hati, atau bagaimana perasaanku dan mungkin lebih tepatnya kau tidak perlu bertanya apapun padaku. Hanya perlu berucap maaf. Apa itu tidak bisa kau lakukan sekarang, hah?”

Tidak bisa. Mungkin saat ini tidaklah bisa untuk Seohyun lakukan karena dia begitu marah sehingga bukannya menuruti pendapat Siwon, Seohyun malah berikan satu tamparan keras di pipi suaminya itu. Telapak tangannya terasa perih sesaat telah memberikan tamparan itu hingga menjalar ke sudut matanya yang kini kembali memerah kala menahan air matanya.

Seohyun menggelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan yang Siwon lakukan tadi padanya dan juga Kyuhyun “Jika kau memang sudah mengetahui segalanya sejak awal, maka bunuh saja aku! Kenapa kau harus mempermalukan kami dan juga dirimu sendiri, Siwon-ah!!!” Seohyun menumpahkan dirinya untuk berteriak. Air matanya yang sudah sukses mengalir dia hapus dengan segera “Dengan begini kau malah membuat dirimu terhina!”

“Aku memang sudah terhina oleh perlakuanmu dan juga pria itu!!!” katanya tajam seraya menunjuk ke arah Kyuhyun yang sedari tadi hanya terdiam menahan dirinya untuk tidak ikut kalaf. Siwon mencengkram kedua bahu Seohyun kuat “Apa yang salah denganku? Apa yang kurang dariku? Apa yang tidak bisa kau dapatkan dariku sehingga membuatmu menjadi begitu hina dengan melakukan penghianatan ini, Seohyun? Kau sudah mencoreng kesucian pernikahan kita. Tidak hanya itu, kau juga telah mencoreng nama baik keluarga kita yang sangat terpandang. Kau sudah membuat aib yang tidak termaafkan!!!”

“Cukup Siwon-ssi!!!” Kyuhyun menyela dengan lantang. Tak cukup sampai disitu, dia pun lepaskan cengkraman tangan Siwon di bahu Seohyun yang jelas-jelas sudah menyakiti tubuh Seohyun “Jangan pernah berpikir menggunakan tanganmu untuk menyakiti Seohyun” sambungnya sangat dingin ketika tadi Siwon memang hampir menampar Seohyun.

“Ah…begitu…” sahutannya begitu pelan. Siwon mengangguk-angguk seolah paham serta hempaskan sebelah tangannya ke bawah. Dia seringaikan bibirnya kala menatap Kyuhyun yang begitu marah padanya. Siwon berdecak hingga satu pukulan keras dia berikan pada dahi Kyuhyun hingga Kyuhyun terjungkal ke belakang “Itulah yang sudah aku ingin lakukan sejak saat dimana kebusukan ini telah aku ketahui!!!”

Petir yang menyambar di luar sana berkumandang bersamaan dengan teriakan Seohyun yang begitu terkejut ketika kekasaran tengah Siwon lakukan pada Kyuhyun. Seohyun menjerit histeris serta menangis merasa bodoh karena hanya bisa menyaksikannya tanpa bisa meredakan emosi yang sudah meluap-luap dari suaminya.

“Sudah sejak di hari itu aku sangat ingin membunuhmu!!!” Siwon begitu kalaf. Tidak hanya sekali dia merasa puas memukul Kyuhyun. Kini secara bertubi dia berikan pukulan-pukulan kerasnya di sekujur tubuh Kyuhyun dengan sangat emosi “Aku sangat menghormatimu sebagai partnerku tapi kau tidak bisa melakukannya padaku. Kau mengahancurkan pernikahanku dan melukai perasaanku, Kyuhyun sialan!!!” lagi dan lagi Siwon berikan pukulannya di tubuh Kyuhyun dengan membabi buta.

“Dan kau” Siwon hentikan pukulannya pada Kyuhyun. Dia menunjuk Seohyun dengan begitu marah “Kau benar-benar bukan wanita terpuji. Kau tidak bisa menghargai kesetiaanku. Kau-kau-“

“Hei!!!” Kyuhyun bersuara cepat. Semula tubuhnya sudah sangat lemah, namun ketika melihat Siwon kembali hampir meluapkan emosinya pada Seohyun, Kyuhyun tak bisa diam. Pria itu segera bergerak dengan dia tarik sebelah kaki Siwon hingga Siwon pun akhirnya terjatuh.

Kyuhyun mulai menguasai keadaan. Kini dia bisa sedikit mengimbangi kekuatan Siwon meski pada akhirnya ada kala dialah yang harus kembali mendapat pukulan menyakitkan. Seohyun berteriak payah kala menahan diri untuk mencoba mengurangi rasa sakit di perutnya akibat gejolak emosi yang dia rasakan ketika melihat dua orang pria itu saling menyakiti. Seohyun terus menangis, meraung, meminta agar mereka bisa berhenti dari sikap kekanak-kanakannya. Tapi yang terjadi tetaplah terjadi. Tangisan serta kehisterisannya hanya berakhir menjadi melodi pengantar kegaduhan yang terjadi.

Adu otot kerap terjadi meskipun keduanya telah terlihat kepayahan mengingat seluruh tenaga dikerahkan hanya untuk mencapai kemenangan. Seohyun yang tak kuasa melihat Kyuhyun paling menderita karena sangat banyak mendapat luka pun menjadi gusar. Dia kebingungan karena sampai detik ini pun teriakannya tak bisa membuat perkelahian itu bisa dihentikan. Hingga pikiran kacau semakin menggerayangi benaknya membuat Seohyun mulai memusatkan pada salah satu benda yang ada di ruangan itu.

Tangannya gemetar hebat ketika mengambil salah satu botol minuman berukuran sedang dia ambil dari salah satu meja di sana. Seohyun memandangnya takut-takut lalu dia alihkan pandangnnya ke arah Siwon yang kini menindih tubuh Kyuhyun dari atas dengan terus memukuli Kyuhyun. Seohyun sesekali masih teriakan kalimat agar semuanya berhenti hingga kesabarannya pun mulai lenyap dan satu suara keras menghantam ruangan itu ketika botol tersebut dia pukulkan pada kepala Siwon hingga botolnya pecah berkeping-keping, berhamburan, bercampur bersama darah yang keluar dari kepala Siwon.

Siwon berteriak sakit hingga secara perlahan dia melemah lalu tubuhnya ambruk terlentang di lantai. Kyuhyun pun segera bangkit demi memanfaatkan situasi yang ada. Dengan cepat, dia hampiri Seohyun yang masih memegang sisa botol itu lalu meraihnya kemudian dia lempar botol itu ke arah lain. Wajahnya ikut khawatir tatakala melihat Seohyun yang sangat ketakutan akibat ulahnya yang sudah menyakiti Siwon.

“Aku-aku”

“Kita pergi dari sini” Kyuhyun menyahuti. Dengan tergesa-gesa, dia bersihkan telapak tangan Seohyun lalu mengajak Seohyun untuk berdiri dengan benar.

“Siwon, dia-“

“Seohyun! Sudah!”

“Aku membunuhnya!!!” teriak Seohyun sangat gusar serta takut. Seohyun menangis terisak ketika melihat Siwon masih menggeliat pelan serta merintih kesakitan “Siwon! Aku-aku-aku telah menyakitinya, Kyuhyun”

“Iti tidak disengaja! Kau dengar? Hal ini tidak disengaja. Kau melakukannya hanya untuk membantuku”

“Tapi aku menyakitinya, Kyuhyun…aku telah membuatnya berdarah…” Seohyun mulai menangis tersedu-sedu sambil dia amati lagi telapak tangannya yang menjadi bukti akan sebuah emosi yang tidak bisa dirinya kendalikan “Aku sudah terlalu banyak membuatnya sakit, Kyuhyun…aku-“

“Hentikan, Seohyun! Hentikan!!!” Kyuhyun meradang. Dengan satu pelukan lembut, dia rengkuh tubuh Seohyun agar wanitanya berhenti menyalahkan diri sendiri “Ini semua masih bisa kita atasi” perlahan Kyuhyun lepaskan pelukannya kemudian dia tangkup kedua pipi Seohyun.

“Aku akan menghubungi pihak rumah sakit untuk membawa Siwon dan menyelamatkannya. Tapi sebelumnya kita harus pergi dari sini. Kita tidak bisa tetap disini karena itu akan sangat membahayakan terutama kau, Seohyun” Kyuhyun berucap dengan sangat sungguh-sungguh. Air mata Seohyun dia hapus lalu mengecup dahi Seohyun dengan lembut “Aku tidak bisa membiarkanmu berada pada situasi sulit. Oleh karena itu kita harus pergi. Kau mau menurutiku?”

Mau tidak mau, Seohyun pun anggukan kepalanya ketika mendengar ajakan Kyuhyun. Meski hatinya masih dilanda rasa risau akibat sadar keadaan Siwon yang parah, Seohyun tetap tak bisa mengelak. Dia harus membenahi dirinya terlebih dahulu sebelum keesokan harinya diharuskan menghadapi situasi yang mungkin akan sangat lebih sulit dari malam ini.

“Ayo” Kyuhyun raih sebelah tangan Seohyun “Kita tidak punya banyak waktu”

“Dan waktu yang tidak banyak itu akan aku manfaatkan untuk membuatmu membusuk di neraka. Cho Kyuhyun!!!”

Bersamaan dengan itu, suara letusan pun terjadi akibat timah panas yang telah diletuskan seseorang tepat ke arah punggung Kyuhyun. Tawa pelan yang sarat akan kemenangan itu pun berkumandang ketika tubuh Kyuhyun perlahan ambruk lalu berlutut di lantai dengan sangat lemah.

Si pelaku yakni Siwon, hempaskan lagi tubuhnya ke lantai kala dia telah cukup sabar menahan sakit di kepalanya. Pistol yang memang sudah dia siapkan di sakunya dia biarkan lepas begitu saja ketika tangannya telah kembali menyetuh lantai. Kedua matanya yang menghadap ke langit-langit ruangan dia pandang dengan kesedihan. Air matanya keluar berbarengan dengan senyum kepuasan yang masih sempat dirinya hadirkan. Setelahnya, Siwon pun mengatup kedua matanya erat. Kesadaran pun hilang ketika dia telah merasa puas mengakhiri semuanya dengan indah versi dirinya. Versi seorang Choi Siwon yang sudah dikhianati dengan sangat pedih.

Seohyun yang saat itu hanya bisa memandang tak berkedip tubuh Kyuhyun yang berangsur lemah akibat tembakan itu pun seakan dibuat untuk menjadi patung sesaat. Ketika tubuh Kyuhyun tidak hanya berlutut namun mulai ambruk terlentang di lantai dengan darah bercucuran dari punggungnya, kini Seohyun mulai bereaksi. Tubuhnya turun. Dia posisikan berlutut di hadapan tubuh Kyuhyun yang lemah tak berdaya. Tidak bisa bersuara sedikit pun. Mulutnya seakan bisu dan tubuhnya jelas kaku ketika melihat pria yang sudah membuatnya hanyut dalam kenikmatan duniawi namun sangat dia cintai kini tengah diambang kematian.

“Kyu-Kyuhyun…” suaranya tampak parau. Dengan tidak beraturan, Seohyun sentuh beberapa bagian tubuh Kyuhyun dengan sangat linglung “Ini tidak nyata, kan?” tanyanya bodoh.

“Kyuhyun-“

“Maafkan aku, Seohyun” Kyuhyun balas menyahuti dengan sama parau akibat terlalu kesakitan. Tangannya coba menggapai wajah Seohyun yang masih memberi tatapan linglung “Setidaknya kau tidak terluka itu sudah membuatku merasa senang”

“Tidak…Kyuhyun-“

“Hiduplah lebih lama untukku, Seohyun…” sela Kyuhyun cepat sambil dia sentuh bibir Seohyun dengan lembut “Hiduplah lebih lama dengan anak kita” tambahnya yang seolah menjadi obat untuk menyadarkan Seohyun dengan cepat.

Seohyun terkesiap akibat ucapan Kyuhyun yang telah menyebutkan anak dalam kalimatnya. Seohyun menggeleng keras lalu air matanya mengalir dengan sangat deras.

Kyuhyun tersenyum mencoba menenangkan “Tidak apa…jangan menangis” katanya lembut “Aku akan baik-baik saja. Kau harus berjanji padaku bahwa setelah ini kau akan hidup dengan sangat bahagia bersama anak kita”

“Kau mau berjanji, hmh?” Seohyun semakin menangis saat Kyuhyun terus meminta padanya. Seohyun genggam tangan Kyuhyun kemudian mengecupinya. Kepalanya pun mengangguk-angguk dengan dicampur perasaan sedih. Kyuhyun tersenyum seraya ikut menangis “Terima kasih, Seohyun…”

Dan setelah itu semuanya terdiam. Suara Kyuhyun lenyap dengan pelan dan kedua mata itu. Kedua mata itu pun ikut mengatup dengan perlahan. Seohyun hapus air matanya kasar. Dia coba bangunkan Kyuhyun dengan menggoyang-goyangkan badan pria itu. Namun, yang dia dapat adalah kediaman. Kyuhyun tak lagi mau merespon dirinya yang terus memaksanya untuk mau terbangun. Seohyun terdiam. Dia terduduk dengan lemah. Lalu pelukan dia lakukan pada tubuh Kyuhyun. Selanjutnya menangis pun dirinya lakukan saat tubuh itu telah Seohyun peluk.

“Jangan pergi Kyuhyun…jangan lakukan ini…kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja saat aku telah terjatuh dan tidak berguna seperti sekarang, Kyuhyun…bangun aku mohon! Kyuhyun!!!!”

©©©

Mungkin bagi sebagian orang dalam dirinya, dalam hidupnya tidak ada satu pun yang tersisa. Hidupnya hancur dan jatuh berkeping-keping. Orang tuanya membuangnya dan tidak mau mengakuinya lagi sebagai anak, lalu perusahaannya hancur, predikat pembunuh pun dia sandang setelah suaminya tak bisa diselamatkan nyawanya akibat sebuah botol yang sudah dia pukulkan pada kepala suaminya tersebut. Jangan lupakan satu hal yang juga turut berharga dalam hidupnya. Kekasihnya, kekasih gelapnya pun telah tewas malam itu juga. Namun, jangan lupakan juga keberuntungan yang masih bisa dia dapatkan. Entah itu bisa dibilang sebuah kemurahan hati atau apapun namanya, dia, Seohyun, harus tetap mau mensyukurinya. Mertuanya tidak malah mungkin tidak akan pernah mau memaafkannya.

Tapi mereka masih mau berbaik hati dengan tidak menjebloskan Seohyun ke penjara karena meski Seohyun dipenjara, putra mereka tidak akan bisa kembali hidup. Mereka membiarkan Seohyun pergi dengan bebas meski predikat penghianat serta pembunuh akan selalu mereka kenang untuk mantan menantunya itu. Tak harus diuangkapkan, meski tak mengatakannya, rasa bersalah dia simpan dalam hatinya karena sudah menghianati ketulusan cinta Siwon. Tidak apa jika sekarang dan mungkin sampai ribuan tahun dirinya mendapat predikat paling hina karena itu setimpal. Apa yang Seohyun dapat sekarang adalah setimpal dengan keegoisan serta keserahkan serta kekhilafan yang sudah dirinya lakukan bersama Kyuhyun.

“Eomma…ceritakan padaku seperti apa dulu sosok appa? Apakah dia sangat tampan, eomma?”

Suara cadel dari gadis kecil berusia lima tahun itu menyadarkan Seohyun yang sedari tadi hanya terfokus diam dan tak kunjung bersuara. Seohyun tersenyum simpul lalu dia belai rambut putrinya sayang “Kau ingin tahu?” senyuman dia hadirkan ketika putrinya mengangguk dengan semangat “Mungkin sulit untuk membayangkannya, tapi yakinlah bahwa appamu sangatlah tampan. Benar-benar tampan“

“Apa setampan Sasuke, eomma?”

Seohyun melongo sejenak. Dia lalu bergumam lantas angkat bahunya ringan. Senyum yang kemudian dia tampilkan sukses membuat putrinya tertawa girang karena senang.

“Yeeee appa seperti Sasuke…! Appa seperti Sasuke…!!!” teriak putri Seohyun dengan girang kala dengan polosnya berpikir bahwa ayahnya memang mirip salah satu tokoh anime yang terkenal di kalangan anak-anak.

Seohyun melihat dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya ketika menyaksikan putrinya begitu senang ketika membahas ayah dari anak itu. Dengan mengikuti langkah anaknya yang semakin dekat ke arah sebuah pusara, Seohyun biarkan sang putri terus berceloteh ringan di atas pusara tempat kekasih yang menjadi ayah bagi putrinya telah disemayamkan. Dia saksikan pemandangan itu dengan segenap ketegaran yang selama 5 tahun ini dia buat. Hidup di kota terpencil di negara China telah menuntunnya untuk menjadi sosok yang lebih dewasa serta bijak dalam menyikapi setiap  masalah yang timbul dalam hidupnya.  Salah satu bukti cinta Kyuhyun pun masih setia mengirinyinya. Pria itu memberikan harta warisnya untuk Seohyun sepenuhnya. Dan hal itu Seohyun gunakan untuk membiayai hidupnya bersama putrinya tersayang.

“Mungkin di masa lalu aku telah banyak melakukan kesalahan yang membuat hidupku jatuh serta seakan tak bisa bangkit walau hanya sedetik. Namun, mengingatmu membuatku sadar bahwa aku harus tetap bisa hidup. Di kehidupan yang akan datang aku berjanji bahwa kesalahan serupa tidak akan aku lakukan yang akan membuat orang-orang di sekitarku menjauh serta mencaci. Dan aku harap di kehidupan yang baru itu, kaulah yang hadir dalam hidupku untuk menjadi pertama dan terakhir bagiku. Aku mencintaimu, Kyuhyun…sangat”

.

.

.

END

Iklan

89 thoughts on “Scandal

  1. Mianhae author aku bru komen di cerita ini.. Telat bgt nemu wp author dan ternyata ffnya kereeennnnn…
    Jarang bgt nemu cerita yg model selingkuhan kyk gni.. Hikss… Bener2 daebakkk… Antara mw berpihak k seokyu tp knp situasi mereka sprt itu.. Dtunggu karya selanjutnya author… 🙂

    Suka

  2. yaampun sedih ;(
    ceritanya bagus bgt bikin mewek ;(
    ga tega juga sih ama seo nya ;(

    Suka

  3. Hikshikshiks sedih….
    Kasian juga hidupnya seo sekarang d tinggal mati ma kyuppa….
    Kalo aja dari dulu seo cerai ma siwon pasti sekarang bisa hidup bahagia ma kyuppa

    Suka

  4. Semua rasa ada di ff ini,sedih,kesel,jengkel,tegang,kasihan,semuanya ada.

    Suka

  5. gw mau koment apa yah tentang ff ini , disatu sisi Gw dukung seokyu, disisi lain gw kasian sama siwon yg dihianatin kek gitu :v tapi sayangnya si kyu ikutan meninggal ..
    ffnya bagus Eonn ^^

    Suka

  6. Bagus banget, meskipun nyesek . .
    oh cingu, kenapa mereka tidak bersatu . . . ;-(

    Suka

  7. Critanya bagusss bngttt. Kerennn

    Suka

  8. Weweww main2 ke blog unnie
    Baca ff yg lalu2
    Ahh sukanya
    Scandal aku kurang sih dr sisi peran yg dimainkan seo ckck
    Tapi nih cerita unik alias baru kali ini gini. Keep berkarya unnie

    Suka

  9. Yahh sad end..
    Aigoo crtax mnyakitkn bngt..
    Tpi kren!

    Suka

Please, leave a reply for me ^o^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s